Pemimpin adalah Cermin

Mangkya darajating praja,
kawuryan wus sunya ruri
rurah pangrehing ukara
karana  tanpa palupi
(Serat Kalatida)

fe.undip.ac.id - Tahun 2011 telah kita lalui bersama dan sekarang memasuki tahun baru 2012, ada baiknya kita mengadakan mawas diri untuk menuju ke masa depan yang lebih gemilang. Sepertinya langkah mawas diri perlu dilakukan oleh paling utama oleh para pemimpin, karena beliau-beliau ini merupakan cermin bagi perilaku para bawahannya, termasuk para warga masyarakat semuanya.

Sepenggal petikan dari Surat Kalatida karya R.Ng. Ronggowarsito pujangga keraton Surakarta yang begitu kenamaan kiranya begitu menjadi relevan. Arti dari kata-kata di atas kurang lebihnya, “Sekarang martabat kekuasaan ini, telah terlihat sunyi sepi dan mati, rusak segala pelaksanaan peraturan, karena kehilangan keteladanan”. Nilai keteladanan yang utamanya mestinya dipunyai oleh para pemimpin ternyata sekarang ini secara umum telah mengalami penurunan drastis, antara apa yang diucapkan dan apa yang dijalankan bisa sangat jauh.

Akibatnya berbagai peraturan yang telah dibuat, kalau bukan untuk dilanggar justru aturan tersebut begitu merugikan masyarakat banyak.  Laksana berlaku penggalan Surat Kalatida berikut yang artinya, orang-orang meninggalkan aturan utama, para cendekiawan dan para ahli terbawa serta, hanyut ikut arus utama dalam jaman kebimbangan, menyaksikan dunia yang penuh kesengsaraan, karena terhalang berbagai rintangan.

Rintangan utama dalam jaman sekarang ini adalah banyaknya pihak yang terpeleset kepada ajaran materialisme, yang sangat jauh dari ajaran agama, maupun pedoman utama kita bermasyarakat yaitu berdasarkan landasan Pancasila dan UUD 1945. Meskipun selalu dinyatakan berkiblat kepada peraturan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, akan tetapi  kenyataan yang terjadi motif utamanya mengejar keuntungan dari segala pengorbanan yang telah dilaksanakan.

Rasa nasionalisme para pemimpin secara umum mengalami penurunan sangat berarti. Nasib mayoritas orang-orang kecil sungguh memelas tidak tersentuh oleh “kue-kue pembangunan”, sementara banyak dari para pemimpin yang termasuk kelompok bergelimang harta, hidupnya sangatlah eksklusif tidak mau melihat kehidupan mayoritas warganya yang terbelenggu dari kemiskinan dan kesusahan. Kalau kita saksikan acara di televisi sepertinya acara “Kalau Aku Menjadi” dan “Orang-orang Pinggiran” sekedar sebagai contoh, apa beliau-beliau ini tidak tersentuh nuraninya untuk memikirkan nasib mayoritas sesama anak bangsa. Atau barangkali sudah tertutup rapat mata dan hatinya oleh belenggu-belenggu setan, ketika berkendaraan mewah begitu acuh menyaksikan begitu banyaknya gelandangan, yang tambah hari jumlahnya tambah membuncah, karena jumlah gelandangan di Indonesia menduduki papan atas di dunia.

Zaman sekarang memang masa keunggulan imagologi, di mana realitas ekonomi dan realitas politik mengalahkan ideologi agama, moral maupun etika, dan realitas sosial begitu mudah dibungkus dengan gagahnya oleh papan reklame, bill board, dan parade iklan yang lebih mengedepankan citra dan estetika (HM Nasruddin Anshory Ch, 2008). Di samping di mana-mana dapat kita saksikan iklan berbagai produk komersiil, juga kita saksikan “iklan” para pejabat atau calon pejabat yang tentunya menjual citra dirinya dengan yang baik-baik, meski banyak masyarakat yang sebenarnya menertawakan atau bahkan acuh dengan segala kebohongan yang telah dijalankan.

Sebagai misal papan pengumumam yang berbunyi mengurus KTP dan Kartu Keluarga gratis di suatu daerah, tetapi pada kenyataannya secara umum tetap saja merogoh uang untuk mengurus dua dokumen yang sangat penting tersebut. Aturan larangan parkir yang jelas-jelas terpampang di suatu sudut jalan, akan tetapi tetap saja dilanggar oleh para pengendara kendaraan, karena sepertinya ketaatan terhadap peraturan begitu minimnya. Belum lagi aturan terkadang tidak cocok dengan situasi, di mana kendaraan sepeda motor pada siang hari mengapa harus dinyalakan, karena ini negara tropis yang cuacanya terang benderang. Ada baiknya aturan tersebut perlu ditinjau ulang. dan lebih baik sangsi keras terhadap pengguna HP yang berupa membaca dan menulis SMS ketika berkendaraan, yang sangat membahayakan bagi pengguna jalan raya lainnya.

Jangan Menyerah

Yang justru lebih mengkhawatirkan lagi, sekiranya perbuatan tercela sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Korupsi yang sebenarnya akar masalah bangsa dan negara ini kalau sudah dianggap sebagai budaya atau hal yang lumrah oleh sebagian besar para warga masyarakat, tentunya sangatlah memprihatinkan. Bisa jadi nasib negara Republik Indonesia berada di ujung tanduk kebangkrutan, dan kita tentunya tidaklah menginginkan hal tersebut terjadi.

Sejarah jatuhnya berbagai negara di masa lalu salah satunya disebabkan oleh perilaku para pemimpinnya yang begitu korup, rakus akan kemewahan, yang berarti aturan agama dan kemasyarakatan sudah pasti dilanggarnya. Ibn Khaldun sebagai contoh ilmuwan besar muslim menerangkan  berbagai rejim kekuasaan di Timur Tengah jatuh bangun karena pemimpinnya sering melanggar syariah Islam, meski dalam pernyataannya tetap berpegang kepada ketentuan dalam hukum Islam tersebut. Contoh di dalam negeri, bagaimana jatuhnya kerajaan Majapahit oleh serangan Demak, salah satunya disebabkan oleh pemimpin Majapahit yang bergelimang harta karena tindakan yang membohongi masyarakat umum, sementara rakyatnya kebanyakan hidup dalam kepapaan dan kesengsaraan.

Kajian penelitian IAIN Syarif Hidayatullah beberapa lalu tentunya membuat terperangah kita semua, di mana ibadah vertikal tidak ada hubungannya (berkorelasi) dengan ibadah horisontal.  Dengan kata lain, meskipun kita melakukan sholat (atau sembahyang) akan tetapi perilaku kita tidak terpengaruh oleh sujud sembah kepada Sang Khalik. Bisa jadi ibadah kepada Tuhan hanya rutinitas belaka, sementara perilaku kepada sesama makhluk justru begitu merugikan. Entah apalah jadinya kalau hal ini sudah menjadi perilaku kita semua, tentunya Tuhan akan murka.

Tuhan masih mengasihi kita semua, di mana berbagai bencana yang melanda tanah air, sebenarnya merupakan peringatan dari-Nya bagi kita semua untuk mawas diri apa semua perintah dan larangan-Nya sudah kita taati. Mengingat corak masyarakat di negeri ini yang masih begitu menggantungkan diri kepada para pemimpin, maka para pemimpin mestinya sadar bahwa hidup ini adalah sementara, sedangkan kehidupan sejati dan abadi justru setelah kematian.

Kalau negara lain yang justru terkenal sekuler, bisa maju karena taat kepada peraturan yang dibuat mengapa kita justru main-main dengan segala aturan yang ada. China beberapa waktu lalu kondisinya karut marut seperti negara kita, akan tetapi sekarang dapat maju dan diduga akan menjadi pemimpin dunia, karena pemimpinnya begitu taat kepada aturan (termasuk hukum), di mana segala pelanggaran apalagi korupsi akan dikenai hukuman mati, tanpa pandang bulu, termasuk pada pimpinan puncak sekali pun.

Meski sekarang ini dikenal jaman “edan” atau “kala bendu” versi Ronggo Warsito, tetapi fatalisme atau rasa menyerah tidaklah semestinya ada. Kepada para pemimpin karena sebagai cermin perilaku kita semua, maka memasuki Tahun Baru 2012 bagi yang sudah baik semakin baiklah, bagi yang kebanyakan berperilaku tidak terpuji, sadarlah bahwa maju mundurnya, bangkrut jayanya negara Republik Indonesia kebanyakan berada di tangan Anda. Kita iringi doa kepada-Nya, semoga di Tahun baru 2012 Indonesia tidak lagi dihina negara lain, akan tetapi mestinya semakin maju dan jaya dalam pergaulan dunia yang semakin keras dan liar.  Para pemimpinnya semoga mendapat amanah dalam kepemimpinnannya, yang semakin menyejahterakan masyarakatnya baik lahir dan batin.Amin.

Purbayu Budi Santosa adalah guru besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip.

sumber : Harian Wawasan